Selasa, 23 Februari 2016

apa yang harus ku jelaskan..
aku tak bisa jelaskan..
apa yang ingin ku ungkapkan..
tak bisa ku ungkapkan..
aku mengerti semua berubah..
aku mengerti semua berbeda..
bukan kamu atau aku..
tapi keadaan..
maaf aku mengerti tapi aku tak bisa memahami..
masa lalu ketika kau dan aku menjadi kita.. 


keadaan sekarang..
masih berbekas di hatiku..

Kamis, 31 Desember 2015

Cerpen Cinta

BIDADARI SURGAKU


As-Syifa Salsabilah.. seorang wanita yang cantik dan rupawan. Namun aku tak tertarik sama sekali kepadanya. Dia wanita berhijab dan aku sangat membenci wanita berhijab. Bagiku wanita seperti itu wanita yang munafik. Dia Calon Istriku. Ibu dan Ayahku yang menjodohkan aku dan dia. Aku sendiri sudah punya pilihan Ajeng Desnita, dia tak berhijab. Aku mengenalnya dari sebuah club malam. Dia begitu anggun dengan baju hitam tanpa lengan dan celana jeans pendek, kaki yang indah di hiasi oleh high heels menambah pesona Ajeng. Rambut hitam yang tergerai yang ia miliki,menambah ayu parasnya. Beberapa kali aku perkenalkan Ajeng pada kedua orang tua ku namun tak pernah ada respon baik untukku. "Jika.. aku tak bisa menikah denganmu.. maka lebih baik aku mati saja.."kata-kata Ajeng seakan menambah rasaku untuk selalu bersama dan menikahinya. Aku tak mau kehilangan dia. 
Pernikahanku tinggal beberapa hari lagi.. segala persiapan sudah di lakukan. Namun aku tak mau ikut campur. Aku tak ingin menikah dengan Syifa. Aku hanya akan menikah dengan Ajeng. Hari ini aku berencana foto prewedding bersama Syifa. Namun aku tetap mengajak Ajeng. Aku dan Syifa bertemu di taman. "Gak papa kan gue bawa Ajeng.. toh gue juga bakal jadi milik loe..!" kataku kepada Syifa sambil merangkul Ajeng. Syifa tampaknya kaget dengan kedatangan dan pernyataan yang aku lontarkan. "Gak papa kok.. udah yuk jalan.. gue nunggu kalian udah lima menit lho..!" kata Syifa tersenyum. Aku pun bergandengan tangan dengan Ajeng. Aku ta menghiraukan Syifa. Sampai di mobil Syifa pun langsung membuka pintu belakang mobil dan membiarkanku duduk di depan bersama Ajeng. Aku tak menyangka dia melakukan hal ini. Dia tampaknya tahu apa yang ada di fikiranku. "Wanita yang hebat dan berhati besar.. baru kali ini aku menemukannya..!" entah kenapa hatiku berkata demikian. Cepat-cepat aku tampis pemikiran itu. Dan brsenda gurau dengan Ajeng. dan sekali-sekali aku melihat wajahnya lewat kaca, ada kesedihan yang terpancar di wajah Syifa namun sebisa mungkin dia menutupinya. "Wanita yang luar biasa!" gumam ku.
Sampailah aku di tempat Foto prewedding. "Lho ini siapa mas Raka..?" tanya Hendro kepadaku. "Ini Ajeng pacar gue..!" jawabku tersenyum. Sesekali aku melihat Syifa mencoba tersenyum. Aku tahu expressi semua orang di studio begitu kaget mendengar pernyataanku. Tapi aku tak perduli. Beberapa menit kemudian Sesi Foto dimulai. Betapa Anggunnya Syifa memakai baju kebaya putih. Dia bagaikan bidadari surga. Aku segera tersadar oleh lamunanku. Aku melihat betapa kesalnya expressi Ajeng ketika melihatku memandang Syifa. Akhirnya sesi pemotretan selesai. Namun tiba-tiba Hendro menarik tanganku. Dan membisikkanku sebuah kalimat yang entah kenapa membuatku terdiam. Aku tersenyum menanggapinya.
Hari pernikahan telah tiba. Ajeng pun datang melihatnya. Sebelum akad dia telah meminta izin kepada kedua orang tuaku agar menemaniku di kamar. Awalnya mereka tak mengizinkannya, namun Syifa yang mendengar keributan kecil itu pun merayu kedua orang tuaku agar mau mengabulkanya. mereka pun luluh. Dan waktu ini telah tiba. Saatnya akad. Aku menunggu Syifa. Tak beberapa lama dia datang dengan kebaya putih. Aku pun tak mampu mengalihkan pandanganku. "beb.. jangan genit..!" ujar Ajeng membisikkan kata-kata itu dari samping. " Wajar dong.. kak Syifa kan istrinya..!" celoteh Rizka adik gue. Prosesi akad nikah pun selesai. 
Malam ini.. Malam pertamaku dengan Syifa. Tapi aku diam-diam pergi bersama Ajeng ke club malam. Tak lupa aku menulis surat tentang kepergianku. Tepat Jam 3 aku pulang. Dan kagetnya ibu yang akan mengambil air di dapur mendapatiku. "Lho.. kamu dari mana ?'' tanya Mamaku penasaran. Aku pun tergagap. "Mas Raka dapat nasi gorengnya..? maaf ya mas aku merepotkanmu..!" kata Syifa yang turun dari tangga. Ibu pun menoleh ke arah Syifa. "Maaf bu.. aku ingin Nasi Goreng tadi.. Jam 2 terbangun.. !' kata Syifa. Mamaku pun tersenyum dan meninggalkan kita berdua. Syifa pun juga membalikkan tubuhnya setelah melihat kepergian Mamaku. "Jadi dia belum tidur ?" Gumamku. Aku pun masuk kamar. "Mas Raka aku tidur dulu ya.. maaf bila ada yang salah dari tidurku" aku tersenyum membaca suratnya. Dia memang wanita yang hebat. 
Kini aku tinggal berdua dengannya. Namun aku masih berhubungan dengan Ajeng. Bahkan setiap malam aku selalu pulang jam 3. Dan entah apa yang ada dalam fikiran Syifa dia pun selalu menyiapakan makan malam untukku dengan meninggalkan sepucuk surat "Mas Raka.. ini aku buatkan makan malam untukmu.. kalau sudah pulang dan kau masih lapar makanlah ini.. ". Setiap aku pulang aku hampir menemukan sepucuk surat dan berbagai macam makanan. Jika aku lapar aku menyentuhnya. Jika aku tidak lapar aku tak akan menyentuhnya. Dan setiap aku masuk kamar aku selalu dapati Syifa sedang membaca buku sambil menahan kantuk. Aku tak bertanya kepadanya. yang selalu aku lakukan, aku akan segera merebahkan tubuhku. Syifa pun menyelimutiku. Setiap malam pun aku selalu mendengar kata-katanya " maaf mas ya.. kalau ada salah dalam tidurku..!". Aku tak pernah membalasya.
Syifa pun selalu memasang alarm untukku. Dan dia selalu membuat sarapan pagi. Entah kemana perginya makan malam kemarin. Setiap aku bangun pun aku selalu mendapati rumah dalam keadaan bersih. Dan entah kenapa Malam ini terasa berbeda. Seperti biasa aku pulang jam pagi. Syifa pun belum tidur. " Aku ingin kita punya anak.. !" entah mengapa kata itu terlontar saja dalam fikiranku. Syifa yang tadinya menahan kantuknya kaget mendengar lontaranku. "Tapi bagaimana caranya.. aku belum tersentuh dan cara kita punya anak hanya bila kau menyentuhku..!" kata Syifa. Ini kali pertama aku bebicara dengannya. Aku akui aku jarang terlibat pembicaraan dengannya. "Ayoo kita lakukan..!" kataku. Syifa tak bisa menyembunyikan perasaan. Akhirnya pada malam itu aku melakukan hal yang harus aku lakukan dari dulu. Beberapa hari kemudian Syifa hamil. Aku sangat bahagia, Aku akan jadi Ayah. Namun dokter menyatakan hal yang lebih buruk. Keadaan Syifa sangat buruk bila dia hamil. Ada tumor di otak Syifa dan kanker. Syifa harus menggugurkan kandungannya. Bila tidak nyawanya akan terancam. Aku begitu bimbang. Entah kenapa aku tak mau kehilangan Syifa. Aku takut dia pergi. Tapi seperti biasa dia tersenyum. "Saya tak akan menggugurkannya..!" ucapnya dengan tegas. Jujur aku tak menyangka dia akan berkata demikian.
Aku bingung. Aku bimbang. "Sayang kenapa sih ?" tanya Ajeng. Aku menceritakan semuanya. "Ya udahlah. kalau dia mati.. kita kan bisa nikah..!" ucap Ajeng. Aku tak menyangka Ajeng akan berkata demikian. " Dia istriku.. ibu anak-anakku.. Dia bidadari surgaku.. gue bingung ma fikiran loe.. dia udah baik ma gue loe.. bahkan dia ngertiin.. sempat-sempatnya loe bilang gitu..!" gue pun pergi meninggalkan Ajeng. Entah kenapa aku begitu emosi. Yang aku fikirkan aku tak akan membiarkan Syifa sakit dan pergi dari hidupku. Sampai di rumah semua nampak biasa. Ada makan malam. Aku pun pergi ke kamar. Syifa seperti kaget dan melihat pada jam dinding. Baru jam 12. Syifa pun tersenyum. 
Hari demi hari perut Syifa mulai membesar. Aku tahu dia merasakan sakit yang luar biasa melawan penyakitnya. Dan aku tahu dia mencoba menahannya. Dia selalu berusaha tersenyum di depanku. Aktivitas pun seperti biasa. Aku sudah memaksanya beberapa kali untuk menyewa pembatu namun dia selalu menolaknya. Malam pun tiba.. Entah kenapa Pulang kerja aku langsung pulang. Beberapa kali Ajeng menelfonku. Aku pun mematikan Handphoneku. Makan malam pu siap. Aku menacari Syifa di kamar. Aku menarik tanganya lembut. Dan mengajaknya menuju ruang makan. Syifa tampak bingung. Suasana makan malam pun tetap hening. Namun Syifa berteriak kesakitan Aku tahu dia akan melahirkan. 
Aku terus berdoa agar kedua orang yang aku sayangi selamat. "Pak maaf kita harus melakukan sesar.. kita harus gugurkan kandungannya jika tidak nyawa istri bapak tak terselamatkan.." kata Dokter keluar dari ruangan. Aku memandang Syifa yang kesakitan. Dia menggelengkan kepala agar aku tak menandatanganinya. "Maaf pak.. pasien meminta suaminya masuk..!" kata Suster. "Sebagai seorang istri.. aku tidak pernah meminta apapun.. tapi kali ini aku minta untuk pertama dan terakhir kalinya jangan mas tanda tangan..aku ingin memberikan hadiah yang selama ini belum aku berikan kepadamu..!" kata Syifa menahan sakit. " Aku tidak mau kehilangan seorang bidadari surga seperti kamu.. aku tak akan membiarkan bidadari surga itu kembali ke surga,, !" ucapku. "Boleh aku pinjam kertas yang mas bawa.. ? "kata Syifa. Aku pun memberinya. Dan aku terkejut ketika Syifa merobek kertas itu. "Kamu akan dapatkan penggantiku mas..!" kata Syifa dengan menahan sakit namun dia tetap tersenyum. "Syifaaaaa.. sudah.. cukup.. aku benar-benar tidak mau kehilangan kamu.. aku gak mau kamu pergi.. kita mulai dari awal.. !" kataku. Ini kali pertama aku merasa benar-benar tak mau kehilangan Syifa. Aku rela di tukar nyawa. Aku rela melakukan apapun untuk Syifa. Syifa tersenyum. Dia pun terlihat tersiksa. Aku ingin menggantikan posisinya. Aku tidak mau dia tersiksa. Akhirnya kami pun mengabulkan permintaan Syifa. Kedua orang tuaku juga tak berhenti untuk berdoa. Ibu ku tak henti-hentinya menangis. Ajeng juga ada. Dia begitu santai mengahdapi ini semua. Aku tak menggubrisnya. Yang terpenting sekarang Syifa selamat. Aku tak mau menjadi seorang Ayah. Cukup menjadi suami Syifa itu anugerah yang terbesar dalam hidupku. Semua keluarga di sini tak henti-hentinya menangis dan berdoa. "Pak Raka.. Bapak mempunyai Putra dan Putri kembar.. Namun keadaan istri bapak sangat kritis.. bapak diharapkan masuk..!" kata Pak Dokter. Ada sedikit kelegaan di raut semua keluarga. "Mas,, aku berhasil,, aku titip mereka.. jaga mereka.. aku berikan hadiah ini untukmu.. aku tidur dulu ya mas.. ashadualla illa hailallah.. wa'ashadu anna muhammadur rassululloh.." Syifa pun menutup mata. Aku mencoba bangunkan dia. Namun Syifa tak bangun-bangun.
AS-SYIFA SALSABILLAH.. dia wanita luar biasa.. berhati besar.. aku pun sudah diperingatkan oleh Hendro.. aku akan menyesal bila tak mencintainya dari awal. Aku akui itu benar. Tak ada wanita yang tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri sedangkan suaminya tak selalu ada untukknya. Tak ada seorang wanita yang benar-benar memperhatikan sang suami padahal suaminya tak memperhatikannya. Tak ada wanita yang dengan sabar selalu berdiri untuk sang suami padahal sang suami lebih memilih berdiri untuk wanita lain. Tak ada wanita yang selalu tersenyum bila dia dihadapkan oleh masalah. Dan wanita yang selalu bersedekah aku baru tahu jika masakan malamku setiap harinya dia berikan kepada anak jalanan. Sungguh besar hatimu.. Sungguh lapang hatimu.. Tak ada wanita yang terima jika suaminya menghabiskan waktu bersama wanita lain.. namun beda dengan istriku.. ibu anak-anakku.. karena dia adalah BIDADARI SURGAKU.. 
















KATA GALAU

RASA YANG KU MILKI

Terkadang aku tersenyum ketika melihat mu..
Mengingatmu pun aku akan tersenyum..
Rasa ingin selalu bersamamu..
Rasa ingin selalu mendengar suaramu..
Rasa ingin bercerita kepada dunia kau milikku..
Hanya milikku,,
Kau untukku..

Kata-kata sayangmu selalu terngiang di telingaku
Kata-kata rindumu semakin membuat bertambah rinduku..
Kedewasaan mu, Pengertianmu,, membuat nyaman hatiku..

Namun..
Semua kini berubah..
Dimana tatapan Cinta yang selalu menatapku.. ?
Dimana senyumman tulus yang selalu kau berikan padaku.. ?
Dimana rasa rinduku..? 
Atau ini rasa bosanmu menghadapi Cinta yang tak pernah terestui oleh ibu dan ayahku ?

Entah sejak kapan.. ?
Entah apa alasanmu..?
Yang ku tahu kau telah berhasil membuat keegoisan Cinta ku roboh..
Dan meninggalkannya..